Peringatan Hari Otonomi Daerah XIX Diperingati Sederhana

MAJALENGKAKAB.GO.ID Peringatan Hari Otonomi Daerah XIX Tingkat Kabupaten Majalengka Tahun 2015 dilakukan secara sederhana, karena dilaksanakan bersamaan dengan Upacara Hari Senin di Lapangan Upacara Setda Kabupaten Majalengka, Senin (27/4).

Hadir pada upacara tersebut Wakil Bupati, Plh. Sekda, para Kepala Dinas, Badan, Kantor, Staf Ahli, Direktur RSUD Cideres dan Majalengka, para Pejabat Eselon III dan IV, serta para pejabat fungsional di lingkungan pemerintah Kabupaten Majalengka.
Dalam sambutannya, Bupati Majalengka H. Sutrisno, SE., M.Si., yang diwakili Wakil Bupati Majalengka Dr. H. Karna Sobahi, M.M.Pd., membacakan amanat Menteri Dalam Negeri, Tjahjo Kumolo, pada Peringatan Hari Otonomi Daerah XIX tanggal 27 April 2015 yang bertema “Menghadirkan Pemerintahan Daerah yang Demokratis dan Melayani Masyarakat dalam Mendorong Terbentuknya Daya Saing, Kreativitas dan Inovasi dengan Mengandalkan Kekhasan Daerah Demi Mewujudkan Kesejahteraan Masyarakat.”
Menurut Mendagri, seiring dengan tema tersebut, Mendagri ingin mengajak segenap pemerintahan daerah untuk merapatkan barisan dan bahu membahu menampilkan kinerja semaksimal mungkin untuk memberikan pelayanan publik guna mewujudkan masyarakat yang berdaya dan mandiri dalam menggapai kesejahteraan yang hakiki dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Lebih lanjut Mendagri menjelaskan bahwa otonomi daerah adalah hak, wewenang dan kewajiban daerah otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat dalam sistem negara kesatuan republik Indonesia. Untuk itu pemberian otonomi yang seluas-luasnya kepada daerah harus dimaknai sebagai kesempatan untuk mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui peran serta aktif seluruh pemangku kepentingan di daerah.
Kebijakan otonomi daerah ke depan menghadapi berbagai tantangan dan tuntutan. Otonomi daerah dituntut untuk menumbuhkan kemandirian penyelenggaraan tata kelola pemerintahan daerah yang aspiratif, transparan dan akuntabel. Otonomi daerah dituntut pula untuk mengharmoniskan pemanfaatan berbagai sumber daya lokal dan kearifan daerah yang merefleksikan perlunya kesiapan kapasitas pengetahuan dan keterampilan masyarakat, terutama bagi generasi muda yang pada 15 – 20 tahun mendatang menghadapi bonus demografi.
Mengakhiri sambutannya, Mendagri berharap dengan semangat Hari Otonomi Daerah XIX dapat merefleksikan kembali makna otonomi daerah dan menjadi spirit dalam mengembangkannya di masa yang akan datang untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat.